Tampilkan postingan dengan label POEM. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label POEM. Tampilkan semua postingan

Senin, 30 Juli 2012

Journey Into Sang Khalik-a Flying Eagle


Burung Elang terbang mengangkasa cakrawala
Cakrawala nan biru menghiasi rasa
Turun menukik di ketinggian si burung elang
melihat paradigma alam lewat matanya
Bunga mekar berwarna-warni
merah, nila, ungu, jingga, dan kuning.
Bumi hijau tanah subur makmur memesona
mata dingin yang segar kala terpercik air murni nan bening
Hati elang yang tlah lama beku dan tersayat
segera terobati…

akan hadirnya senyuman yang berharap setia menemani.
Senyuman yang tak bisa lepas
Senyuman yang tak bisa hilang
Senyuman yang menyejukkan jiwa
Senyuman Ramadhan
Cahaya Keimanan
 
Elang datang kala melanglang
setelah melewati tantangan
Tak gentar oleh alam
Menuju Cahaya Sang Pencipta
Rengkuh Rindu Kepada Khalik-Nya



Read more

Rabu, 18 Juli 2012

Cinta


Cinta,
Pagi itu, suara pecahan piring, terbang  beradu pada ubin pualam , serpihannya mengancam damai kicau burung parkit pagi hari.

Cinta,
Lebam pipi kanan, memar pada kaki tangan, meninggalkan tangis luka teramat dalam

Cinta,
Ketika mulut isinya hanya kebun binatang, sementara aku sesak, sedih melihatnya pergi dan tak pernah kembali, 

Ayah, Ayah, Ibu, Ibu

Cinta,
Anak-anak ku, anak matahari ku, permataku, kekasihku,
anak jalananku, masih juga dijalan

Cinta,
Teman Sekamarku, Sahabat yang menjadi pelita

Cinta
Bangkrutkah?Hianatkah?Dosakah?
Matikah? Selesaikah? 

Cinta,
Perpisahan, Pengorbanan,Rampasan  kasih dan sayang, 
Sayang,Sayang pergi, tak berharap, tak kembali
Sakit, senang, tangis, harap
Luka, luka,luka 



cinta-cinta-cinta
hidup, hidup, hidup
aku hidup
aku bisa sembuh
   Iya, aku sembuh,,,

Cinta,
Lahir dengan senyuman,iringan kemerduan suara adzan

sembuh untuk hidup
aku sembuh
sembuh,, sembuh,, sembuh 
sembuh untuk belajar
belajar mencinta
pada 
cinta, cinta, cinta
cintaMU 
:)

7/18/2012, Kamarku
Retno Kusumawardani


Read more

Kamis, 02 Desember 2010

Puisi Cinta Rumi Hingga Rendra

Inilah Cinta
Jalaluddin Rumi

Inilah cinta, membumbung ke langit
Setiap saat mengoyak seratus cadar
Mula-mula, mengingkari hidup
Akhirnya, melangkah tanpa kaki
Menganggap dunia ini tak tampak
Sepi semua yang muncul di benak
”O, jiwa,” kataku, ”Semoga kau berbahagia
Memasuki negeri orang-orang tercinta
Memandang daerah yang tak tercapai mata
Menyusup ke dalam lekuk liku dada!
Dari mana datangnya nafas ini, o jiwa
Dari mana pula asal denyut jantung, o hati?
Burung, bicaralah dengan bahasa burung
Kutahu artinya yang terselubung
Jiwaku pun menyahut, ”Aku berada di pabrik
Yang sedang mengolah air dan tanah liat
Aku pun melepaskan diri dari sana
Ketika sedang diciptakan
Waktu tak kuat lagi aku bertahan, mereke menyeretku
Dan menuangku
Sehingga bagaikan bola bentukku.”

D o a
Amir Hamzah

Dengan apakah kubandingkan pertemuan kita, kekasihku?
Dengan senja samar sepoi, pada masa purnama meningkat naik
setelah menghalaukan panas payah terik
Angin malam menghembus lemah, menyejuk badan, melambung
rasa menayang pikir, membawa angin ke bawah kursimu
Hatiku terang menerima katamu, bagaikan bintang memasang lilinnya
Kalbuku terbuka menunggu kasihmu, bagai sedap malam menyirak  kelopak
Aduh, kekasihku, isi hatiku dengan katamu, penuhi dadaku dengan cahaya,
biar bersinar mataku sendu, biar berbinar gelakku rayu

Padamu Jua
Amir Hamzah

Habis kikis
Segala cintaku hilang terbang
Pulang kembali aku padamu
Seperti dahulu
Kaulah kandil kemerlap
Pelita jendela di malam gelap
Melambai pulang perlahan
Sabar, setia selalu
Satu kekasihku
Aku manusia
Rindu rasa
Rindu lupa
Di mana engkau
Rupa tiada
Suara sayup
Hanya kata merangkai hati
Engkau cemburu
Engkau ganas
Mangsa aku dalam cakarmu
Bertukar tangkap dengan lepas
Nanar aku gila sasar
Sayang berulang padamu jua
Engkau pelik menarik angin
Serupa dara di balik tirai
Kasihmu sunyi
Menunggu seorang diri
Lalu waktu – bukan giliranku
Mati hari – bukan kawanku…

Amir Hamzah Penyair Melayu
Kemala

kutatang cinta
anak melayu
nestapa bergulung air mata
wajah merajahi diri
di jalan kembali
Tanjung Pura kota sepi
Makan dan Masjid Azizi
hanya tatap doa menuntun
dan mantap bunga santun
sebelum senja di Tanjung Pura
Amir dan Kemala bertukar Seloka
Antara kasih dan maut
cakaran hanya memagut

Walau
Sutardji Calzoum Bachri
1979

walau penyair besar
takkan sampai sebatas allah
dulu pernah kuminta tuhan
dalam diri
sekarang tak
kalau mati
mungkin matiku bagai batu tamat bagai pasir tamat
jiwa membumbung dalam baris sajak
tujuh puncak membilang bilang
nyeri hari mengucap ucap
di butir pasir kutulis rindu-rindu
Walau huruf habislah sudah
Alifbataku belum sebatas allah

Ibunda
WS Rendra

Engkau adalah bumi, Mama
aku adalah angin yang kembara
Engkau adalah kesuburan
atau restu atau kerbau bantaian.
Kuciumi wajahmu wangi kopi
dan juga kuinjaki sambil pergi
kerna wajah bunda adalah bumi
Cinta dan korban tak bisa dibagi.

AKAN KE MANAKAH ANGIN
Emha Ainun Nadjib

Akan ke manakah angin
Tatkala turun senja yang muram
Kepada siapa lagu kuangankan
Kelam dalam kabut, rindu tertahan
Datanglah engkau berbaring di sisiku
Turun dan berbisik dekat di batinku
Belenggulah s’luruh tubuh dan sukmaku
Kuingin menjerit dalam pelukanmu
Sampai manakah berarak awan
Bagi siapa mata kupejamkan
Pecah bulan dalam ombak lautan
Dahan-dahan di hati bergetaran

Read more

Puisi-Puisi Sufi Pilihan Jalaluddin Rumi

DALAM sebuah puisi sufinya bertajuk “Syahadat Kita”, penyair klasik Persia terkemuka Jalaluddin Rumi mengajak para pembaca mengernyitkan dahi sejenak. Rumi menggelitik kesadaran religi kita: Dia berkata Tiada tuhan, lalu dia berkata kecuali Tuhan. Dari Tiada menjadi kecuali Tuhan maka menjelmalah Keesaan.
Dengan nukilan goresan pena itu, sesungguhnya Rumi menyingkap dan mengungkap situasi kepenyairannya sendiri. Tepat sekali bila pembaca menebak-nebak, disamping terkenal sebagai penyair, ia memang seorang ulama besar (mullah). Nama lengkapnya Jalaluddin Rumi ialah Maulana Jalaluddin Rumi Muhammad bin Hasin al Khattabi al-Bakri. Lahir pada 30 September 1207 Masehi di Balkh (kini terletak di perbatasan Afganistan) dan meninggal pada 17 Desember 1273 Masehi di Konya (wilayah Turki, Asia).
Jalaluddin Rumi dibesarkan dalam keluarga dan masyarakat yang memberikan semangat keagamaan padanya. Ayahnya, Bahauddin Walad mendapat kedudukan tinggi di kalangan keagamaan di Khorasan, sebelum ia dengan tiba-tiba mengungsi ke Konya wilayah kekuasaan Turki Saljuq menjelang penyerbuan bangsa Mongol. Di Konya, Bahauddin mendapat bantuan lindungan dan bantuan raja serta penghargaan rakyat sebagai khotib dan guru agama.
Rumi sendiri, setelah menyelesaikan pendidikan bertahun-tahun di Aleppo dan Damsyik, pada saatnya pula mengajar dan menjadi khatib di Konya. Sepanjang hidupnya, ia telah menghasilkan lebih dari tiga ribu kasidah (ode) dan ghazal (lirik). Bagi pembaca tanah air, buku kumpulan puisi Rumi yang sangat terkenal yakni Masnawi. Buku ini terdiri dari enam jilid dan berisi 20.700 bait syair. Dalam karyanya ini, terlihat ajaran-ajaran tasawuf yang mendalam, yang disampaikan dalam bentuk apologi, fabel, legenda, anekdot, dan lain-lain.
Pada bagian pendahuluan bukunya itu, Jalaluddin Rumi mengatakan:
Aku tidak menyanyikan Masnawi agar orang membawanya dan mengulang-ulangnya pula, akan tetapi agar orang meletakkan buku itu di telapak kaki dan terbang bersamanya. Masnawi adalah tangga pendakian menuju kebenaran. Jangan engkau pikul tangga itu di pundakmu sambil berjalan dari satu kota ke kota lain.
Terbang bersamanya, kata Rumi di atas. Demikian pula puisi-puisi sufi yang akan saya tampilkan berikut,  berupaya agar semangat ketuhanan yang ada dalam diri manusia dapat diusahakan lahir kembali. Terbang bersama makna tersembunyi puisi sufi. Atau seperti yang dianjurkan Rumi adalah melakukan perjalanan dari diri (yang rendah) ke diri (yang tinggi) — from lower self to higher self.
Dalam sebuah puisinya Rumi mengumpamakan perjalanan dari diri ke dalam diri sebagai perjalanan ‘sebutir pasir yang menyimpang dari jalan yang lazim dan memasuki tubuh tiram, dan setelah lama terkurung akan muncul sebagai mutiara’.
Lantaran banyaknya puisi-puisi sufi yang telah ia ciptakan dan agar postingan ini tidak terlalu panjang, maka pada kesempatan ini akan saya pilihkan beberapa buah saja diantaranya. Selamat membaca dan menghayatinya:

Puasa Membakar Hijab
Rasa manis yang tersembunyi,
Ditemukan di dalam perut yang kosong ini!
Ketika perut kecapi telah terisi,
ia tidak dapat berdendang,
Baik dengan nada rendah ataupun tinggi.
Jika otak dan perutmu terbakar karena puasa,
Api mereka akan terus mengeluarkan ratapan dari dalam dadamu.
Melalui api itu, setiap waktu kau akan membakar seratus hijab.
Dan kau akan mendaki seribu derajat di atas jalan serta dalam hasratmu.


Disebabkan Ridha-Nya
Jika saja bukan karena keridhaan-Mu,
Apa yang dapat dilakukan oleh manusia yang seperti debu ini
dengan Cinta-Mu?

Letak Kebenaran
Kebenaran sepenuhnya bersemayam di dalam hakekat,
Tapi orang dungu mencarinya di dalam kenampakan.


Rahasia yang Tak Terungkap
Apapun yang kau dengar dan katakan (tentang Cinta),
Itu semua hanyalah kulit.
Sebab, inti dari Cinta adalah sebuah
rahasia yang tak terungkapkan.


Pernyataan Cinta
Bila tak kunyatakan keindahan-Mu dalam kata,
Kusimpan kasih-Mu dalam dada.
Bila kucium harum mawar tanpa cinta-Mu,
Segera saja bagai duri bakarlah aku.
Meskipun aku diam tenang bagai ikan,
Tapi aku gelisah pula bagai ombak dalam lautan
Kau yang telah menutup rapat bibirku,
Tariklah misaiku ke dekat-Mu.
Apakah maksud-Mu?
Mana kutahu?
Aku hanya tahu bahwa aku siap dalam iringan ini selalu.
Kukunyah lagi mamahan kepedihan mengenangmu,
Bagai unta memahah biak makanannya,
Dan bagai unta yang geram mulutku berbusa.
Meskipun aku tinggal tersembunyi dan tidak bicara,
Di hadirat Kasih aku jelas dan nyata.
Aku bagai benih di bawah tanah,
Aku menanti tanda musim semi.
Hingga tanpa nafasku sendiri aku dapat bernafas wangi,
Dan tanpa kepalaku sendiri aku dapat membelai kepala lagi.


Hati Bersih Melihat Tuhan
Setiap orang melihat Yang Tak Terlihat
dalam persemayaman hatinya.
Dan penglihatan itu bergantung pada seberapakah
ia menggosok hati tersebut.
Bagi siapa yang menggosoknya hingga kilap,
maka bentuk-bentuk Yang Tak Terlihat
semakin nyata baginya.


Kesucian Hati
Di manapun, jalan untuk mencapai kesucian hati
ialah melalui kerendahan hati.
Maka dia akan sampai pada jawaban “Ya” dalam pertanyaan
Bukankah Aku Tuhanmu?


Memahami Makna
Seperti bentuk dalam sebuah cermin, kuikuti Wajah itu.
Tuhan menampakkan dan menyembunyikan sifat-sifat-Nya.
Tatkala Tuhan tertawa, maka akupun tertawa.
Dan manakala Tuhan gelisah, maka gelisahlah aku.
Maka katakana tentang Diri-Mu, ya Tuhan.
Agar segala makna terpahami, sebab mutiara-mutiara
makna yang telah aku rentangkan di atas kalung pembicaraan
berasal dari Lautan-Mu.


Tuhan Hadir dalam Tiap Gerak
Tuhan berada dimana-mana.
Ia juga hadir dalam tiap gerak.
Namun Tuhan tidak bisa ditunjuk dengan ini dan itu.
Sebab wajah-Nya terpantul dalam keseluruhan ruang.
Walaupun sebenarnya Tuhan itu mengatasi ruang.


Lihatlah yang Terdalam
Jangan kau seperti iblis,
Hanya melihat air dan lumpur ketika memandang Adam.
Lihatlah di balik lumpur,
Beratus-ratus ribu taman yang indah!


Keterasingan di Dunia
Mengapa hati begitu terasing dalam dua dunia?
Itu disebabkan Tuhan Yang Tanpa Ruang,
Kita lemparkan menjadi terbatasi ruang.
***
Puisi sufi, meminjam pernyataan penyair sufi Indonesia Sutardi Calzoum Bachri adalah perwujudan seorang penyair yang sadar sebagai makhluk spiritual. Sebagai makhluk spiritual dia selalu berusaha mengungkapkan kerinduannya akan nilai-nilai spiritual demi menciptakan keutuhan dirinya.
Tanpa dimensi spiritual, manusia takkan pernah bisa menyempurnakan kemanusiaannya. Ia hanyalah robot berdaging yang hidup di bumi dengan segala aktivitas bernilai relatif, yang dijalankannya dari hari ke hari sekedar menunggu atau menunda saat kematiannya.
http://dwikisetiyawan.wordpress.com/2009/09/03/puisi-puisi-sufi-pilihan-jalaluddin-rumi/
****
Referensi:
1. Kasidah Cinta Jalaluddin Rumi, Yogyakarta: Tarawang, Maret 2000.
2. Jalaluddin Rumi Kisah Keajaiban Cinta, Yogyakarta: Penerbit Kreasi Wacana, Cetakan Kelima Oktober 2003.
3. Abdul Hadi WM, “Sastra Transedental dan Kecenderungan Sufistik Kepengarangan di Indonesia“, makalah Simposium Festival Istiqlal Tahun 1991.


Read more

Rabu, 17 November 2010

Menjawab Statusnya

Pada seorang yang entah dimana, menulis statusnya,
tentang betapa malangnya nasibku sekarang,


Hari ini kukatakan,
Hari ini kunyatakan,
Bahwa aku tidak apa-apa
Bahwa aku sehat dan bahagia
Bahagia dan Bersyukur karena Allah memberiku kesusahan
untuk mengingatkan aku akan kemudahan-Nya
Bahagia dan Bersyukur karena Allah memberiku kesedihan
untuk mengingatkan aku akan kebahagiaan-Nya
Bahagia dan Bersyukur karena Allah memberiku kehidupan
untuk mengingatkan aku akan kematian-Nya
Hidup seperti roda yang berputar
Hanya Allah Yang Maha Tahu kapan perputarannya

Sri Retno Kusumawardani
Read more

www.redisredno.blogspot.com

Photobucket